Kamis, 27 Februari 2014
Belajar Mengajar
mempersiapkan generasi yang akan berkiprah mengarungi era globalisasi, itulah yang dirasa diperlukan untuk saat ini. berkaca kepada realita, mayoritas generasi muda tidak berada pada tempat yang seharusnya. hal ini dapat dilihat dari contoh kecil seperti anak usia sekolah tetapi tidak bersekolah, adapun siswa yang malah bertindak tidak selayaknya sebagai seorang siswa, bahkan siswa yang sudah rajin, pintar, dan sopan sekalipun tidak berada pada tempat yang seharusnya ia berada. tanggung jawab siapakan ini? pemerintah????????
jangan hanya berpangku tangan, menyerahkan segala hal kepada pemerintah. bukankah dalam hadits-pun dikatakan "allah tidak akan merubah suatu kaum selain kaum itu sendirilah yang merubahnya".
kita hanya bisa berkomentar atas segala kebijakan yang diterapkan, tanpa kita sadari kita sendirilah yang malah mengacaukannya. coba telaah kembali, apakah benar kita sudah berbuat maksimal untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa"?, apakah cukup seorang pendidik hanya memberikan materi yang ada dibuku saja?. kalau sekedar mencatat, siswa tidak mungkin bisa menyerap ilmu secara maksimal. dan kalau hanya mencatat, tidak perlulah ada peranan seorang pendidik.
peranan seorang pendidik adalah ujung tombak dari keberhasilan mempersiapkan generasi yang siap mengarungi era globalilasi.
apakah kita tidak sedih ketika melihat anak murid kita tidak tentu nasibnya setelah lulus dari sekolah? apakah cukup dengan hanya ia mendapatkan ijazah sebagai pengantar lamaran kerja? banggakah kita jika anak murid kita bekerja sebagai buruh pabrik? tanya hati kita!!! masihkah itu salah kebijakan pemerintah? jelas-jelas kita yang mendidik dia.
"make manah" itulah kata yang selalu dikatakan "sepuh". karena benar saja, apapun harus dengan hati, bukan dengan materi.
pendidik itu besar tanggungjawabnya, walaupun kecil tanggungannya.
menurut sebuah penelitian, tingkat penyerapan otak 10% membaca, 20% mendengar, dan 70% dari apa yang ia alami (ada juga sumber lain yang menyebutkan berbeda), sehingga apakah jika siswa tdk mampu menyerap pelajaran yang diajarakan, tidak perlu menyalahkan siswa, tapi robahlah metoda pembelajaran kita, bukan terus menerus menyalahkan siswa. lakukan pembiasaan dalam penerapan materi kita, insya allah materi lebih mudah diserap.
buatlah siswa menjadi kreatif, dukung setiap kreatifitas siswa, berikan kebebasan siswa dalam mengeksplor materi dengan cara mereka sendiri. pola pikir mereka yang harus pendidik kembangkan, jangan sekedar "mencekoki" otak mereka dengan materi-materi yang belum tentu bisa diserap. ketika siswa tidak mampu menyerap materi, itu bukan kesalahan siswa, tapi kesalahan pendidik yang tidak bisa memberikan materi yang mudah dipahami siswanya.
perhatikanlah life skill dari siswa, karena itulah modal yang akan mereka bawa. kecerdasan (iq) hanya 20% sebagai modal, sedangkan 80% nya adalah emosional dan spiritual, (dari ESQ : Ari Ginanjar).
ketika siswa mengeksplor kemampuannya, itu menunjukkan bahwa ia mengembangkan emosional dan spiritual, tapi malah sering pendidik halangi dengan berbagai alasan sehingga malah membunuh kreatifitas siswa. tidak berdosakah kita karena telah mematikan semangat generasi penerus bangsa???
Langganan:
Postingan (Atom)